Sweet Seventeen

Tittle               : Sweet Seventeen

Genre              : Family, Friendship, Romance

Rating             : PG+15

Main Cast       : Choi Kyuhyun

 Kwon Yuri

Support Cast  : Choi Jinri

Onew

 Hyuna

Na Eun

Hyorin

Length                        : One Shoot

 

Anyeong Haseyo, Mianhe apabila Fanfiction ini masih jauh dari harapan. Segala penggambaran karakter tokoh sebagian imajinasi author jadi tak ada niat untuk membashing salah satu idola.

Happy Reading ^^.

                                           

Bukannya aku tak mau menjawab persaanmu. Tapi aku ingin lebih mengenal kepribadiannya dari sisi yang berbeda dan apakah yang dia ungkapkan itu tulus berasal dari hatinya. Lagi pula aku tak mau terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan tapi terlalu lama menggantung jawabanku juga tak baik, aku takut dia akan berpaling dariku ini sungguh membuatku di lema.

 

Mendengar kabar ini rasanya tubuhku sudah tak sanggup memopang diriku lagi. Aku tidak menduga bahwa orang yang bertahun-tahun aku sukai begitu mudahnya terlepas dari genggamanku disaat kami berdua ingin memulai kisah manis ini. 

 

Aku lebih tahu bagaimana cara menghargai dan menyayangi orang-orang yang dekat denganku baik itu keluarga maupun sahabat, rasanya aku ingin melindungi mereka semua sebagai tanda terima kasihku kepada mereka. Serta lebih banyak bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang dan berusaha untuk menjaganya, juga menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam menghadapai masalah tentunya bersama mereka. Kalau seperti ini aku optimis bisa melalui rintangan walau seberat apapun asalkan di lakukan bersama semua akan terasa ringan.

 

 

Yuri’s POV

Seoul Performing Art High School 07.22 a.m

Kwon Yuri imnida, aku bersekolah di seoul performing art high school kelas 2.Bisa masuk kesekolah tenar ini karena aku mendapatkan beasiswa prestasi. Seperti biasa dia datang mengendarai Ferrari-599xx yang kebetulan pula aku juga baru tiba bersamaan dengannya. Sepanjang perjalanan menuju kelas seluruh mata namja dan yeoja tertuju padanya. Dan tak sedikit pula ada yang berteriak histeris layaknya seorang fans bertemu idolanya. Aku yang berjalan turut di belakang agak merasa risih tiap hari mendengar keriuhan suara tak penting itu hinga kekelas kami. Namanya Choi Kyuhyun  salah satu namja popular yang merupakan kapten basket sekaligus salah satu dari keluarga chaebol.Aku yang sedang mempersiapkan buku-buku pelajaranku seketika terhenti medengar kegaduhan dari bangku belakang tempat di mana kyuhyun duduk. Tri yeoja Hyuna, Na Eun dan Hyorin, heboh mengeluh-eluhkan kyuhyun namun orang yang dimaksud tengah sibuk bergelut dengan gamenya.Akupun memasang earphone dan menyandarkan kepalaku ketembok sambil memandang kearah kaca jendela menikmati pemandangan yang tersaji di luar.

“Yuri-ya,apakah kamu telah menyelesaikan tugas dari guru Yoon kemarin?” teriak Onew dari arah belakang sembari menepuk pundakku mengagetkan.

“Bukankah hari ini Seosangnim yoon tak ada mata pelajaran di kelas ini? Jawabku heran lalu mengernyitkan dahiku.

“Hahaha aku hanya bercanda, kamu terlihat lucu kalau wajah mu terpampang serius begitu. Memangnya kamu ada masalah? Ayolah tak usah kamu tutupi kita inikan sahabatan” seru Onew. Iya, dia dalah sahabatku bahkan bisa di bilang seperti saudara. Kami tinggal satu atap disebuah panti asuhan sejak masih bayi hingga sekarang.

“Tak apa-apa, mungkin hari ini aku sedikit lelah karena seharian kemarin aku terus saja belajar untuk persiapan olimpiade matematika” sanggahku. Tak lama kemudian bel berbunyi tanda pelajaran akan segera di mulai. Secepat kilat seluruh siswa-siswi mengambil posisinya masing-masing tak terkecuali denganku.

Kantin 11.45 a.m

“Mau pesan apa?” tanya Onew terhadapku yang sibuk membolak-balikkan daftar menu.

“Aku ikut saja” jawabku singkat seraya tersenyum kearahnya.

Selang beberapa detik saja terdengar gubrakan pas depan meja kami.Aku hanya menghela nafas dalam-dalam lalu menutup kedua mataku perlahan membukanya kembali.

“Kyuhyun-ah hentikan!!! Kamu ini kekanak-kanakan sekali, apa masalahmu dengan kami?” sergah Onew menarik kerah baju Kyuhyun.

“Tak ada masalah Cuma aku tak suka saja melihat kalian berdua” sahutnya tersenyum sinis.

“Sudahlah Onew, kamu tak perlu membuang waktumu untuk bermain-main dengannya” kataku memutar bola mataku dengan malas lau berlalu pergi. Diantara seluruh siswa-siwi di sekolah ini hanya kami yang kadang menerima perlakuan tak mengenakkan darinya. Mungkin karena status kami di sini. Itulah kadang aku kurang percaya diri bergaul dengan mereka. Baru beberapa langkah tiba-tiba terhenti kala dia menahan tanganku namun dengan sedikit paksaan aku menariknya kembali.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV

“Tak ada masalah Cuma aku tak suka saja melihat kalian berdua” sahutku tersenyum sinis. Sebenarnya aku sangat geram menyaksikan pemandangan ini apalagi saat mereka bersama, tak tahu apa ini bermula semenjak  aku bertemu dengannya  tak sengaja dua tahun yang lalu dan rasa ini terus berlanjut sampai sekarang.

Flashback

Aku yang terus berlari dari kejaran ahjussi yang ingin menculikku namun dari arah samping seseorang menarik tanganku lalu menyekap mulutku. Dengan mudahnya aku langsung berhasil menghindar darinya dan balik menyerang dia. Belum sempat aku melayangkan pukulan dia menyuruhkun menghentikan sesaat tertegun mendengar suaranya yang ternyata di adalah seorang yeoja akupun memastikan dengan melepaskan topinya. Sejenak aku terperangah memandangnya dan masuk kedalam fatarmorgana. Tapi itu tak berlangsung lama ketika seorang pemuda memangilnya dan menghenyakkan lamunanku sedari tadi.

Hari pertama sekolah aku diantar appa, seluru siswa-siswi mengikuti masa orientasi kecuali aku yang mendapatkan perlakuan spesial. Dari kejauhan aku melihat seorang yang ku kenal sedang sibuk dengan para senior, ku geserkan sedikit bola mataku ke sisih sebelahnya sesaat terhenti waktu aku memergoki namja yang pernah bersamanya tengah mencuri pandang kedia. Begitulah aku dapat memutuskan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Flashback End

“Sudahlah Onew , kamu tak perlu membuang waktumu untuk bermain-main dengannya” kata Yuri.

Ketika akan melangkah aku menahan tangannya, entah apa yan ada di fikranku saat itu tapi inilah dorongan hati dan otakku yang telah menyatu, sungguh aku tak ingin berpaling darinya.

Mengapa aku harus memiliki rasa terhadapnya. Padahal hampir seluruh yeoja di sekolah ini berharap kalau mau menjadi kekasihnya tapi tidak dengan dia.

Choi’s House 04.00 p.m

“Aku pulang” sapaku lemas, sebenarnya kata-kata ini tak perlu di lontarkan kerumah sebesar ini. Palingan aku akan makan malam sendiri lagi mengingat appa dan eomma selalu sibuk sampai tak bisa meluangkan waktu bersama lagi.

“Oppa, anyeong haseyo, jeongmal bogoshipoyo” sahut Jinri . Dia adalah Yeodongsaeng.

“Kapan kamu tiba di seoul?” tanyaku heran. Sudah lima tahun Jinri meninggalkan Seoul untuk melanjutkan pendidikan di Inggris.

“Tadi siang, aku akan tinggal di sini selama enam bulan. Oh iya kebetulan di sekolah lagi ada sistem pertukaran pelajar jadi aku mengajukan proposal dan menunjuk sekolah oppa”.

“Mwo? Bisa-bisa aku akan turun pamor kamu tahu tak banyak orang yang mengetahui kalau aku mempunyai jamae”. Kadang tak enak pula menjadi namja populer di sekolah, seluruh anggota sekolah akan terus mengikuti perkembangan hidup dan seluk beluk keluargamu.

“Hei Justru aku akan mengangkat derajatmu, bilang saja oppa malu karena kita bisa setingkatan. Selama bersekolah di middle maupun high school aku hanya butuh waktu masing-masing dua tahun. Baiklah selama di sini aku tak akan menganggu kehidupan pribadimu”.

“Dan satu lagi kamu tak boleh memberitahu siswa-siswi di sekolah kalau kita ini adalah saudara, camkan itu baik-baik” bukannya aku tak suka, tapi aku tak mau Jinri akan pusing menghadapi orang-orang di sekolah baik yang menyukaiku ataupun membenci diriku.

Pagi ini tak biasanya appa dan eomma berkumpul untuk sarapan pagi mungkin mereka ingin menyambut Jinri ternyata dugaanku salah. Hari ini appa ingin pergi New York untuk perjalanan bisnis selama tiga bulan. Itu tak lantas membuatku heran, hal seperti ini sudah lumrah bagiku.

End Kyuhyun’s POV

Yuri’s POV

Seoul Performing Art High School 07.22 a.m

Aku yang sedang berirangan sambil becuap-cuap bareng Onew tepat di depan gerbang sekolah sebuah sepeda menabrak bokong Onew.Akupun menoleh kebelakang dan langsung memeriksa keadaan Onew. Onewpun langsung mengambil ancang-ancang menghindariku sesaat akupun sadar kalau ternyata dia namja.Buru-buru Yeoja yang menabrak Onew segera minta maaf sambil membungkuk menghadap kami.Kami berdua sendiri tak mempermasalahkannya karena mengganggap ini murni kecelakaan.

“Sepertinya kamu siswi baru yach?” tebakku karena wajahnya tak begitu familiar.

“Ne, ini hari pertama sekolah di sini, kebetulan sekali aku sangat bingung bolehkan kalian memberitahukuletak ruang guru di mana?” pintanya.

“Sini aku akan mengantarmu” kata Onew lalu menggandeng lengan Yeoja itu bahkan dia pun menyuruhku untuk masuk duluan. “Onew-ah motifnya oke juga” gumamku dalam hati.

Dikelas sendiri, aku lagi menunggu Onew yang sedari tadi tak menampakkan batang hidungnya. Sesekali aku mengetuk meja dengan jari telunjukku membentuk sebuah irama menandakan aku sangat bosan berada di kelas ini. Di tambah gemuruh suara dari trio Yeoja Na Eun, Hyuna dan Hyorin yang tetap eksis mendekati kyuhyun.Sepermenit kemudian orang yang kutunggu datang memasang wajah sumringahnya, akupun bertanya kepadanya namun dia hanya membalasku dengan cengingisan. Kelaspun mendadak hening waktu Guru Yoon  datang kekelas dan akan memperkenalkan siswi baru. Guru Yoonpun memanggilnya karena siswi itu sedari tadi menunggu di balik pintu kelas.Saat dia masuk aku cukup kaget Yeoja yang menabrak Onew akan menjadi chingu baru di kelas kami.Guru Yoon menyuruhnya untuk memperkenalkan dirinya.

“Yorobun, anyeong haseyo Choi Jinri imnida, aku siswi pertukaran pelajar dari Cambridge of Senior High School(fiksi). Aku cuman enam bulan saja berada di sini jadi mohon bantuannya” katanya seraya membungkukkan badannya.

“Jinrisilahkan kamu duduk dibangku depan paling ujung sebelah Yuri supaya kita bisa memulai pelajaran” perintah Guru Yoon lembut.

Dia berjalan kearahku dan senyumnya tak pernah lepas sekalipun. Di belakangku Onew terus menunjuk-nunjuk punggungku dengan bulpen sebagai tanda. Tahu akan fikirannya aku tak menegok hal ini membuat Guru Yoon berdehem memandang kearah kami. Jinri sendiri hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua. Aku harap dia bisa menjadi bagian dari kami.

Kantin 11.51 a.m

“Jinri jangan duduk di situ, kita ke bangku sudut sana saja” sergahku menghalanginya.

“Memangnya kenapa? Di situ ada penghuninya” tanyanya dengan wajah menyeramkan sambil mengangkat tangannya seperti hantu.

“Ne, bahkan melebihi dia itu seperti monster” jawabku dengan gerakan yang sama dengannya.

Onew yang berada di sampingku tak henti-henti tertawa melihat kelakuan kami berdua tanpa sadar seluruh siswa-siswi di kantin memandang kami. Onewpun segera menarik tangan kami berdua untuk segera pindah tempat.

Jam pelajaran telah usai kita bertiga pun pamit masing-masing karena Aku dan Onew naik bus sedangkan Jinri bersepeda.Jinri yang akan mengayuhkan sepedanya dari arah belakang terdengar bunyi klakson lantas hal ini membuatnya terjatuh dari sepeda. Akupun buru-buru membantu Jinri berdiri, Onew yang emosi bersiap untuk melabraknya. Tak disangka Eun Sui bangkit dan berjalan tergopoh-gopoh sambil mengangkat roknya hingga lutut menuju mobil itu.

“Onew kamu akan mendapatkan saingan tinju kelas berat, sepertinya kita akan mendapat masalah” ucapku lirih terhadap Onew yang masih melongo melihat sifat Jinri yang asli keluar. Jinri yang marah menggedor-gedor kaca mobil itu secara beringas dan membabi buta. Sesaat orang itu membuka kaca mobilnya dan memasang wajah menantang.

“Kyuhyun-ah, kamu ingin membunuhku yach? Hampir saja jantungku copot karenamu?” teriak Jinri. Siapa sangka awal ketemu dia begitu manis. Tapi dari mana dia mengetahui namanya?.

“Sorry… are you have fun, guys?”.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV

Aku melihat Jinri berjalan dengan mereka. Tapi yang paling aku benci mengapa mesti bergaul dengannya. Di tambah lagi Onew yang sesekali menunjukkan perhatian ke Jinri padahal diakan sudah punya Yuri. Akupun emosi melihat kedekatan mereka berniat untuk mengagetkan Onew namun tak di sangka justru Jinrilah yang terjatuh.

“Kyuhyun-ah, kamu ingin membunuhku yach? Hampir saja jantungku copot karenamu?” teriakJinri. Sebenarnya akupun tak sengaja dan merasa bersalah terhadapnya.

“Sorry… are you have fun, guys?” cuman kata itu yang terlontar dari bibirku, masa sich aku harus bilang aku melakukan hal ini karena cemburu dengan seorang Onew argh itu sangat menggelikkan.Akupun menancap gas pergi meninggalkan mereka.

Choi’s House 06.44 a.m

Pagi ini Eomma memberitahu kami kalau appa sampai saat ini tak bisa di hubungi padahal sudah seminggu lebih setelah kunjungan bisnisnya keluarga negeri. Tak biasa, walau sesibuk apapun appa tak pernah menonaktifkan handphonennya.Bel rumah berbunyi kali ini kami sekeluarga kedatangan pengacara Park, dia mengumumkan bahwa rumah beserta asetnya di sita karena pinjaman appa tak kunjung lunas di bank.Di meja makan sendiri aku, eomma dan Jinri tengah berunding.

“Agioo.. padahal hari ini akan ada arisan berlian di daerah gangnam” celutuk eomma.

“Eomma, bukan saatnya untuk memikirkan itu sekarang kita harus menghubungi appa”seruku.

“Bagaimana caranya, tahu sendirikan handphonennya tak aktif. Kalau aku sich hari ini akan tetap ke sekolah” kata Eun Sui sambil mengunyah sarapannya.

“Kamu ini mengapa wajahmu sesantai itu? Kita ini akan pindah ke aprtement yang dulu, kamu tahu di situ sangat sempit, belum lagi appa tak tahu dimana rimbanya. Aku tak mau kesekolah kalau bukan dengan mobil itu” gerutuku jengkel dengan keadaan ini.

“Aku yakin appa akan baik-baik saja.Semenjak aku pergi melanjutkan studyku keluar negeri aku jarang menyusahkan appa bahkan mungkin tak pernah. Aku membiayai sekolahku sendiri dari beasiswa dan tinggal di asrama. Ketika libur panjang teman-temanku semua kembali kerumahnya masing-masing dan menikmatinya bersama keluarga. Tapi tidak denganku, aku harus bekerja parawaktu demi kelangsungan hidupku selanjutnya, intinya sich aku harus bisa mandiri. Karena seutuhnya kita tak bisa tergantung pada orang lain. Beda dengan kalian yang tiap harinya menghambur-hamburkan uang appa belum lagi tinggal menikmati fasilitas yang ada. Itulah mengapa aku bisa hidup dalam kesederhanaan dan tetap berusaha walaupun tanpa melakukan itu semua aku bisa mendapatkannnya dari appa” ungkap Jinri panjang kali lebar yang membuatku sedikit terhanyut dalam kisahnya, padahal selama ini aku selalu iri dengannya karena appa perhatiannya lebih besar ke Jinri dibandingkan dengan diriku.

Choi’s Apartement  06.30 a.m

“Oppa kajjja, sudah beberapa hari oppa tak masuk sekolah, apa kamu ingin tinggal kelas dan menua disana?” omel Jinri seraya menarik selimutku.

“Aku tak mau, masa aku harus berangkat ke sekolah dengan bus” kataku yang masih mencoba menyatukan jiwa dan ragu dengan alam sekitar sambil duduk menguap.

“Kalau begitu oppa bareng aku saja naik sepeda”seru Jinri lalu menarikku hingga kekamar mandi.

Sarapan pagi ini beberapa hari begitu berbeda karena yang menyiapkan segalanya adalah eomma. Padahal dulu kalau jam segini dia sudah berkumpul dengan teman-teman sosialitanya di tambah lagi aku sarapan bersama Jinri adikku satu-satunya.

“Haruskah kita memakai sepeda ini?” gerutuku yang terus memandangi dari atas sampai bawah sepeda Jinri yang menurutku terlalu manis dan kurang macho apabila aku yang memakainya.

Aksen cewek nampak di sepeda ini dari warnanya pink hingga motif bunga-bunga yang menempel, belum lagi keranjang yang terletak bagian depan terdapat fotonya yang aegyo,sumpah ingin muntah melihatnya.

“Daripada jam segini kita harus berdesakan dengan penumpang, pilih yang mana?” tanya Jinri polos tapi sebenarnya dia sengaja memasang wajah tak berdosanya itu, yach mau tak mau.

Seoul Performing Art High School 07.15 a.m

Aku yang telah sampai di sekolah tengah sibuk mencari tempat parkiran. Akupun tahu sepanjang perjalanan namja dan yeoja terus memperhatikanku. Ada yang sampai melongo tak jelas, hingga menamppakkan giginya yang berjamaah  dan tak sedikit pula mereka pingsan. Mungkin tak percaya seorang Choi Kyuhyun bersepeda ke sekolah belum lagi tak ada tahu status kami yang bersaudara. Saat menuju kelas di koridor Jinri berkata padaku

“Orang bukan sedang melihat dirimu tapi diriku, waktu beberapa hari yang lalu aku mengeluarkan ide untuk mengadakan baksos di sekolah dan aku menjadi ketua panitianya bahkan kepala sekolah sempat memujiku, kerenkan? Satu lagi untuk menjadi terkenal itu tak harus seperti caramu banyak kok alternatif lainnya tapi berhubung aku tak doyan dengan hal begituan jadi kamu tak boleh menganggapku rival. Orang akan lebih menghargaimu bukan karena fisik dan harta kekayaan melainkan karena kemampuanmu apalagi itu bisa bermanfaat bukan hanya pada diri kita sendiri tapi orang lain juga” nasehat Eun Sui membuat hatiku mulai tergerak yang bagaimana aku sangat suka kalau orang lain  memujiku bahkan aku sampai gila popularitas kini perlahan mulai sadar.Aku yang sampai di kelas Trio Yeoja Hyuna, Na Eun dan Hyorin tak lagi menyambutku justru membuatku semakin tenang. Saat aku melewati Yuri, dia juga tersenyum kearahku walaupun tipis tapi aku dapat merasakan ketulusannya.

“Jinri-ah, apakah kamu pacaran dengan Kyuhyun” tanya Onew mengagetkan kami.

“Itu tak mungkin, Kyuhyun itu adalah oppa..”.

“Dia adalah yeodongsaeng aku” ucapku singkat, padat dan jelas seketika seisi kelas hening hanya terdengar suara jangkrik yang menemani serasa berada di kuburan, akupun berlalu menuju bangkuku.

End Kyuhyun’s POV

Yuri’s POV

“Eun Sui, apakah kamu pacaran dengan Kyuhyun” tanya Onew mengagetkan mereka.

“Itu tak mungkin, Kyuhyun itu adalah oppa..” .

“Dia adalah yeodongsaeng” ucapnya yang mengklarifikasi segala pertanyaan hatiku. Senang juga sedikit kikuk karena beberapa hari ini aku akan terus bersama Jinri berhubung aku adalah sekertaris baksos nanti.

Kantin 11.57 a.m

Aku, Onew dan Jinri tengah berada di kantin menikmati makan siang seraya membahas kegiatan baksos. Semenjak kehadiran Jinri di dekat kami, aku semakin percaya diri dan cenderung lebih terbuka dengan yang lain. Dia juga banyak mengajariku bukan cuman pelajar tapi tentang kehidupan, membuat keseharianku dan Onew berbeda juga lebih bewarna. Senyum dan tawanya mungkin akan selalu kuingat, walaupun kadang kala tingkahnya sedikit aneh dan tak masuk akal.

“Oppa, ayo gabung di sini” panggil Jinri dari meja kami, Kyuhyun yang berniat duduk sendiri langsung mengangkat makanannya pindah duduk di samping Onew.

“Sebentar pulang sekolah bagaimana kalau kita akan melanjutkan menyusun proposal ini di taman kota saja?” ungkapku tapi sebenarnya ini alasan agar aku tak gugup di depannya sekaligus menghentakkan kekikukan di antara kami.

“Ah jangan di situ lebih baik di apartement kami saja, kebetulan akhir-akhir ini banyak penemuan baru eomma” Seru Jinri. Mendengar pernyataan ini membuatku sedikit tak karuan hal inilah yang ku maksud kadangpula jalan pikiran Eun Sui tak bisa ku tebak.

“Penemuan baru? Memangnya ibumu ilmuan” tanya Onew sesekali menggaruk kepalanya.

“Maksudku begini sudah beberapa hari ini eomma rajin ke dapur untuk mencoba resep baru jadi di apartementku itu banyak makanan apalagi jam-jam pulang sekolah dia rajin menyiapkannya. Tapi ngomong-ngomong oppa mengapa kamu terlihat keringatan gitu. Kayak habis lari marathon di stadion sangnam saja?”.

“Aku hanya kurang enak badan saja”.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV

“Aku hanya kurang enak badan saja” elakku. Ingin rasanya aku mencekik adikku sendiri lalu menggantungnya di Namsan Tower. Dia sungguh membuatku stress apa ini? Mengajak yeoja yang ku sukai datang ke apartement. Astaga….!!!

Choi’s Apartement 02.00 p.m

Jinri menyuruh mereka masuk,diantara kami sekeluarga mungkin Jinrilah yang paling cerewet dan hiperaktif dibandingkan dengan eomma. Aku mungkin sangat kasihan melihat calon suaminya kelak. Mungkin awal ketemu dia tertarik setelah mengenalnya lebih dekat kamu akan sering diberi sensasi kejutan berbeda. Eomma menyuruh kami makan, nampak kekakuan diantara kami tapi tidak dengan Jinri muka lugu yang sengaja dia pasang membuat aku sedikit mendengus kearahnya. Usai makan aku langsung kekamar untuk istirahat sedangkan Jinri dan Yuri sibuk mencuci piring. Sudah hampir setengah jam aku mengurung diri di kamar sembari berbaring. Terdengar suara pintu di terbuka aku fikir Jinri tapi mengapa langkahnya begitu tenang padahal kalau dia masuk kekamarku seperti cacing kepanasan.Aku yang sedang mengenakan masker wajah perlahan membuka mataku dan bangun sesaat aku tertegun diam tak percaya ternyata orang yang datang adalah Yuri “mianhe” ucapnya sambil membungkukkan badan lalu pergi dengan cepat.

Malam harinya aku merasa gelisah dan tak bisa tidur nyenyak. Dari luar Jinri terus saja mengetuk pintuku, dia ingin berbicara empat mata denganku di kamar.

“Oppa, sejak kejadian tadi kamu tak pernah keluar kamar memangnya ada apa?” tanya Jinri khawatir atau lebih tepatnya pura-pura khawatir.

“Tak ada apa-apa?” jawabku pendek karena saat ini aku sendiri tak mau diganggu.

“Apa kamu menyukainya?” terka Jinri yang membuatku terhenyak diam.

“Apa maksudmu?” elakku tersenyum sinis kearahnya.

“Agioo..Tatapanmu saat melihatnya berbeda dengan yang lain” ungkap Jinri yang menurutku apakah diriku terlalu berlebihan dihadapan Yuri atau akunya yang mudah di tebak.

“Tapi diakan sudah punya pacar?” celetukku ini justru mendapatkan pukulan bantal darinya.

“Pabo..Orang dekat itu belum tentu sepasang kekasih, mereka itu cuman sebatas sahabatan semenjak kecil di sebuah panti asuhan. Aku saja yang sudah sebulan tahu mestinya oppa bisa membaca keadaan apalagi oppa hampir dua tahun sekelas dengannya. Setelah tahu begini apakah kamu akan diam saja kayak manekin? ah”celoteh Jinri.

Sesaat berfikir akupun menyusun rencana dengan Jinri yang melirikku sambil mengangkat alisnya setinggi langit.

“Haruskah aku turun tangan?” lanjut Jinri.

Seoul Performing Art High School 08.00 a.m

Acara baksospun dimulai sebagai pembukaannya kepala sekolah tengah berdiri di mimbar untuk menyampaikan kata sambutannya dan di lanjutkan dengan Jinri sebagai ketua panitia pelaksana.Walaupun kadang dia bertingkah konyol tapi ketika berbicara di depan umum seperti anak yang bukan usianya 15 tahun. Di baksos ini seluruh siswa-siswi dari berbagai kelas maupun organisasi sekolah turut meramaikannya baik itu dengan mengadakan bazarmaupun unjuk kebolehan dibidang akademik dan non akademik dan terbuka untuk umum mungkin bisa dibilang ini sebagai sarana promosi sekolah kami. Sebagian dananya sendiri akan di sumbangkan kepada anak-anak yang putus sekolah. Bangga dech sama adik sendiri sudah lama sekolah ini tak adakan acara seramai ini kayak karnaval jalanan.Dari kejauhan aku memandang Yuri yang tengah sibuk berlalu lalang di kerumunan orang. Sewaktu dia berbalik tak sengaja di melihatku sesaat akupun menjadi salah tingkah dia sendiri hanya tersenyum tipis kearahku.

Coffe Shop 08.30 p.m

“Kenapa cuman kita berdua saja yang berada di sini, terus Onew dan Jinrinya kemana?” tanya Yuri binggung. Iya memang cuman hanya ada aku dan Yuri,ini semua adalah ide Jinri yang mengajak Yuri kesini dengan alasan buat ngerayain suksesnya baksos kemarin padahal dia sendiri tak datang mungkin sedang berada bersama Onew, entahlah yang jelas inilah kesempatanku mengungkapkan segala isi hatiku.

“Apa kamu tak suka?” lirihku memandanginya.

“Bukan begitu, aku suka dengan suasana caffenya tapi…” ungkap Yuri mengangkat kedua tangannya membentuk tanda silang sambil menggoyangkannya sesaat dia tertunduk malu dan memutuskan percakapannya.

“Lupakan, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu. Sebelum Jinri dekat denganmu mengapa kamu selalu menghindariku padahal sebelum masuk kesekolah ini kita saling kenal”.

“Soal itu….Kan masalahnya saat itu kamu berbeda dengan yang sekarang maksudnya…”.

“Aku tahu itu” jawabku melanjutkan kata-kata Yuri.

“Kalau di fikir-fikir kamu, itu yang duluan sering mengerjaiku. Lagipula aku juga tak mau mencari gara-gara denganmu takutnya beasiswaku di cabut oleh kepala sekolah”.

“Aku menyukaimu Kwon Yuri…” seruku menghentikan aktivitas Yuri yang sibuk mengunyah makanannya.

“Jangan bercanda” sahutnya sambil melanjutkan kegiatannya.

“Apa wajahku terlihat bercanda, aku serius lagipula aku tak mengharapkan jawaban saat ini”.

End Kyuhyun’s POV

Yuri’s POV

“Aku menyukaimu Kwon Yuri…” seru Kyuhyun yang menghentikan aktivitasku. Aku sendiri belum bisa percaya namun jantungku sendiri makin lama berdegup dengan kencang.

“Jangan bercanda” sahutku mencoba mengalihkan dengan cara melanjutkan makanku.

“Apa wajahku terlihat bercanda, aku serius lagi pula aku tak mengharapkan jawaban saat ini”.

Bukannya aku tak mau menjawab persaanmu. Tapi aku ingin lebih mengenal kepribadiannya dari sisi yang berbeda dan apakah yang dia ungkapkan itu tulus berasal dari hatinya.Lagi pula aku tak mau terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan tapi terlalu lama menggantung jawabanku juga tak baik, aku takut dia akan berpaling dariku ini sungguh membuatku di lema. Sepanjang perjalanan ke panti asuhan aku terus saja diam , sesekali Kyuhyun membuyarkan segala kekikukan di antara kami dengan pertanyaan yang bertubi-tubi mengarahku.Angin berhembus sepoi-sepoi menambah dinginnya suasana di malam ini.

“Sepertinya kita sudah sampai” kata Kyuhyun menghenyakkan lamunanku.

“Gomawo, sudah mengantarkanku. Aku juga hampir lupa aku mau minta maaf soal kejadian tempo hari di apartementmu waktu itu aku mencari tasnya Jinri aku fikir itu kamarnya”.

“Tak apa-apa, kamu tak usah memikirkannya, selamat malam” sahut Kyuhyun. Ketika akan melangkah pergi, kami berdua dikagetkan dengan suara riuh kegaduhan di depan pintu panti.

“Apa aku bilang pasti Kyuhyun akan mengantar pulang Yuri, jadikan besok kamu yang mentraktirrku di kantin?” tagihOnew pada Jinri.

“Ne” jawabnya sambil mendengus kesal.

Astaga tak kukira mereka berdua menjadikan hubungan kami sebagai taruhan. Aku dan Kyuhyun hanya tersenyum simpul melihat tingkah aneh mereka berdua yang menurutku sangat konyol.Tak sengaja pandanganku dan Kyuhyun bertemu, membuatku kembali menjadi salah tingkah.

“Yuri-ya, aku dapat info dari Jinri kalau besok lusa birthday Kyuhyun. Apa kamu tak berfikir untuk memberikan sesuatu terhadapnya?” tanya Onew seraya memainkan remote TV.

“Aku juga tahu, tapi sampai sekarang aku masih bingung” jawabku sambil memandang kearah TV tapi sebenarnya dari wajahku nampak kegelisahan.

“Jinja?” seru Onew yang langsung bangun setelah mendengar pernyataanku.

“Aku akan membantumu mencarikannya”lanjutnya.

Choi’s Apartement 03.15 p.m

Aku dan Onew di undang oleh nyonya Choi untuk ngerayain sweet seventeennya Kyuhyun. Dan nyonya Choi membuatkan banyak makanan untuk kami.

“Wahhh.. ada ayam goreng” teriak Onew kegirangan dari dapur ekspresinya seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru. Aku yang kebetulan sedang menyiapkan meja makan menoleh ke sumber suara. Sepertinya Onew akan menjadi petugas dinas kebersihan apalagi yang berhubungan dengan ayam goreng (baca rakus).Nyonya Choi sendiri yang berada di samping Onew cuman tersenyum sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Usai acaraJinripun memberikan kado dan langsung kyuhyun membukanya betapa senangnya dia karena Jinri memberikannya sepasang sepatu basket yang selama ini diidamkannya. Tak lupa Onew juga turut setelah di buka hadiahnya berupa baju basket. Sesaat aku tertunduk dan mengurungkan niatku, Onew yang tahu aku membawa terus mengkode diriku dengan menyenggol lenganku.Aku sedikit minder, aku takut Kyuhyun akan kecewa dengan pemberianku.

“Maaf aku tak memberimu sesuatu” lirihku penuh arti.

“Apakah kamu tak mengingat hari ulang tahun ku, padahal aku telah berharap banyak padamu” seru kyuhyun dengan suara sendu.

Nyonya Choi yang kebetulan lewat di depan kami membawa kantungan berisi sampah akupun mendapatkan ide untuk menghindar sementara waktu dengan menolongnya. Yach… Hitung-hitung mencari udara di dekat taman apartement.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV

“ Maaf aku tak memberimu sesuatu” ucap Yuri terhadapku seketika membuatku kecewa.

“Apakah kamu tak mengingat hari ulang tahun ku, padahal aku telah berharap banyak padamu”

Seruku meminta penjelasan karena sekarang ini fikiran dan otakku semakin berkecamuk.

Namun jawaban apa yang ku dapatkan dia hanya berlalu pergi dengan alasan membiarkan dirinya membawa kantong sampah keluar dari apartement mungkin dia ingin menghindar dariku.Tak selang beberapa menit aku berniat untuk pergi menyusulnya. Tapi langkahku terhenti di depan pintu kala aku melihat sebuah bingkisan dan langsung memungutnya. Orang yang aku maksud tengah duduk berada di taman dekat apertement, memperhatikannya dari jauh perlahan tapi pasti kulangkahkan kakiku mendekati Yuri.

“Apa kamu tahu, kalau kamu seperti ini justru akan membuatku bertambah menjadi khwatir denganmu” seruku mengagetkannya sesaat dia menoleh kearahku dengan wajah sembabnya.

“Yuri-ya, mianhe . Semenjak aku mengungkapkan perasaanku aku merasakan kamu semakin menjauh dariku. Entah apa yang terjadi tapi itu sangat tak mengenakkan bagiku. Ataukah karena kehadiran ku di tengah-tengah kalian” jelasku yang bimbang sekaligus bingung mengenai sikap Yuri selama ini padahal aku fikir awalnya semua akan berjalan baik.

“Bukan seperti itu hanya saja aku masih mempertimbangkannya” jawab Yuri yang sedari tadi diam sambil memegang ujung bajunya.

“Soal apa? Kamu tahu sendirikan bahwa aku bukan Kyuhyun yang dulu. Apakah kamu meragukannya atau karena statusku sekarang?” ucapku lemas tak berdaya.

“Yuri-ya mengapa kamu tak menjawabku?”.

End Kyuhyun’s POV

Yuri’s POV

“Bukan seperti itu hanya saja aku masih mempertimbangkannya” jawabku yang sedari tadi diam sambil memegang ujung bajuku gemetaran.

“Soal apa? Kamu tahu sendirikan bahwa aku bukan Kyuhyun yang dulu. Apakah kamu meragukannya atau karena statusku sekarang?” ucap Kyuhyun yang lemas tak berdaya.

“Yuri-ya mengapa kamu tak menjawabku, aku juga tahu bahwa kamu sebenarnya membelikan ku kado” lanjutnya panjang lebar.

“Kyuhyun-ah, Apakah kamu mau menerima keadaanku apa adanya” seruku sambil menatap Kyuhyun nanar tak terasa air mataku mengalir tetes demi tetes, aku tak bisa mengungkapkannya apa yang terjadi denganku nantinya.

“Ne” katanya lalu menarik tubuhku kedalam dekapannya.Dadanya yang hangat aku bisa merasakan ketulusan hatinya hingga kejantungku yang tak henti-hentinya berdegup cepat.Aku akan memulai belajar bagaimana cara mencintai dan menyayangimu lebih dalam lagi. Hanya ada daun yang berguguran satu persatu tertiup angin menemani kami berdua berusaha melewati malam manis ini.

Seoul Performing Art School07.15 a.m

Aku menyambut pagi ini dengan sentuhan barudan tentunya dengan status berbeda.Sejauh aral memandang, mataku tertuju pada segerombolan siswa-siswi sedang menatap mading sekolah. Aku yang juga penasaran segera berbaur dengan mereka. Trio Yeoja sadar akan kedatanganku langsung menghampiri dengan kehebohannya seperti biasa.

“Yuri-ya bagi dong tipsnya?” seru Hyorin semangat. Aku tak terlalu begitu merespon tingkah mereka karena aku sendiri bingung tak mengerti maksud perkataanya.

“Hm..ternyata diam itu yang lebih menghanyutkan” celutuk Na Eun genit.Apa yang mereka katakan sungguh membuatku semakin bingung lalu mengernyitkan dahiku.

“Chukkae Yuri-ya, akhirnya kamu berhasil menemukan pangeranmu”sahut Hyuna, membuatku paham arah pembicaraan mereka. Tak ku sangka berita ini begitu cepat tersebar hingga keseluruh sekolah.

“Jangan kamu fikir kami yang menyebarkan walaupun aku ketua mading disekolah ini, tapi aku sendiri punya etika dalam menulis sebuah artikel. Kyuhyun sendiri yang meminta untuk di publikasikan terlebih semenjak mengikuti olimpiade kemarin lalu dan pernah menjadi sekertaris baksos kamu semakin di kenal hampir seluruh sekolahan ini dan banyak juga yang mendukungmu katanya kalian salah satu pasangan favorit” lanjut Hyuna panjang lebar.

“Aku ta tertarik dengan popularitas di sekolah itu sangat membuatku risih” ungkapku.

“Nikmatin saja dulu lagi pula menjadi populerdi sekolahan ini tak seutuhnya buruk apalagi kamu di kenal dengan kepintaranmu” nasehat Na Eun.

“Iya awalnya aku kira Kyuhyun akan turun pamor eh ternyata dia masih eksis bukan seperti yang dulu, dia sangat berbeda mungkin karena kamu mengarahkannya. Aku dengar sekolah kita akan bertanding di tingkat nasional, itu daebak!” celoteh Hyorin sebenarnya pernyataan mereka semua ada benarnya juga.Kadang kala aku harus belajar dengan mereka yang mendapatkan pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi mereka masing-masing tidak sepertiku yang harus tiap hari bergelut dengan buku-buku. Apa yang ada di benakku tentang mereka kini perlahan mulai bergesar. Mereka tak sepenuhnya mengurusi kehidupan orang-orang di sekolah tapi mereka hanya ingin berbagi saja mungkin karena mereka peduli satu sama lain. Kalau tak ada mereka pun kita tak bisa menyelamatkan kakak kelas kami yang hampir bunuh diri itu karena Trio Yeoja ini sering membuntutinya alasannya dia begitu mencurigakan,ah ada-ada saja.

“Yuri-ya , apa kamu melamun” sergah Hyuna menggoncang pundakku. Sesaat aku terhenyak lalu tersenyum kearah mereka dan pamit untuk kekelas. Tri Yeoja pun memberikan lamabaian tangannya ke arahku yang perlahan meningalkan mereka.

Kantin11.38 a.m

Kami berempat tengahistirahat berada di kantin aku melihat jam tangan yang akan kuberikan ke Kyuhyun telah dia pakai.Sesekali Kyuhyun mencuri-curi pandang kearahku. Aku yang menyadari akan hal itu justru menjadi salah tingkah sampai-sampai saat makan aku tersedak. Dengan sigap Kyuhyun mengambilkanku minuman. Onew dan Jinri hanya tersenyum nakal melihat tingkah kami berdua.Deringan handphoneku membuyarkan kekakuan diantara kami, akupun memisahkan diri dari mereka karena yang menelfonku adalah ayah angkatku. Aku sendiri kaget tak biasanya dia menghubungi, semenjak setahun lalu dia mengembalikkanku ke panti asuhan.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV               

Sinar matahari telah memasuki kamarku, di hari libur ini rasanya aku ingin bermalas-malasan saja seharian.  Aku yang masih mencoba menyatukan jiwa dan ragaku sesekali mengosok-gosok mataku. Trtrtrt terdengar suara getar handphoneku, akupun meraba-raba meja nasakku lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelfon.

“Nugu?”tanyaku keseberang telfon sembari menguap.

“Ini onew, Kyuhyun-ah bisakah kamu datang ke panti?. Yuri pergi bersama ayahnya” jawab Onew gagap.

“Yailah, mungkin ayahnya sedang rindu dengan anaknya wajarkan?” seruku sambil turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

“masalahnya, Yuri di tarik paksa, katanya dia akan di jodohkan untuk melunasi hutang ayahnya” sahut Onew panik. Sesaat aku menghentikan aktivitas mencuci wajahku segera bergegas berganti pakaian tanpa mandi. Melihat Aku keluar sepagi ini, Jinri yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi bersama eomma memanggilku.

“Kamu mau kemana?” panggil Jinri.

“Aku mau ke pantinya Yuri?” seruku.

“Astaga oppa kencan juga kan tak harus sepagi ini” gerutu Jinri.

“Iya kan bisa makan dulu, lagi pula apakah kamu ingin pergi dengan wajah selepek itu dan gaya yang berantakan”lanjut eomma.

“Ini ada keadaan penting, nanti aku akan menjelaskannya. Jinri-ya temani oppa kesana”.

Sepanjang perjalanan di bus aku menceritakan Jinri mengenai kejadian sebenarnya. Dia sendiri meresponnya dengan emosi meledak-ledak sampai-sampai mengeluarkan kata-kata yang tak  pantas di ucapkan. Bahkan seluruh penumpang menatap kami jengkel, aku sendiri hanya bisa menghela nafas panjang.

Aku yang telah tiba di sambut oleh Onew yang raut wajahnya menampakkan kekhawatiran.

“Kyuhyun-ah, Yuri telah di bawah olehAyahnya ke daerah Apgujeong untuk mengenalkan kepada keluarga yang akan dia nikahi” ungkap Onew dengan nafas tergopoh-gopoh.

“Mwo?” kata-kata itu yang bisa terlontar dari bibirku. Perlahan aku menyandarkan badanku ketembok. Mendengar kabar ini rasanya tubuhku sudah tak sanggup memopang diriku lagi. Aku tidak menduga bahwa orang yang bertahun-tahun aku sukai begitu mudahnya terlepas dari genggamanku disaat kami berdua ingin memulai kisahmanis ini.

“Mengapa itu bisa terjadi? terus apakah kita akan membiarkannya seperti ini? Mungkin di sana Yuri sangat ketakutan setengah mati. Dia itu masih muda, tak mampu aku membayangkan bagaimana kehidupan selanjutnya” teriak emosi Jinri tak terima.

“Apa kamu mempunyai uang 10 Juta won , hah. Kalau bukan karena ayahnya yang meminjam untuk bermain judi dia juga tak akan begini” balas Onew yang tak kalah meledak.

“Bahkan 1 juta won saja aku tak punya” ucap lirihku lemah.

End Kyuhyun’s POV

Yuri’s POV

Sepanjang perjalanan baik itu di bus sampai di restaurant daerah Apgujeong pun appa terus saja menarik tanganku dan memaksaku untuk melakukan pertemuan ini. Aku terus saja meronta-ronta tapi apalah dayaku dengan kekuatan seperti ini tak mampu mengimbangi appa. Tak tahan lagi mendengar suara tangisanku appa dengan mudahnya melayangkan tamparan tepat mengenai pipiku.

“Kamu harus menikah dengan anak teman appa, apakah kamu ingin membuat appa malu?”.

“Aku tak mau appa” teriakku sejadi-jadinya bahkan aku tak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di depan restaurant menjadikan pertengkaran kami sebagai tontonan gratis.Appa yang tak kehabisan akal terus saja menarikku hingga masuk kedalam restaurant dan sesaat terdiam  kala tatapannya memandang dari kejauhan teman appa tengah bicara dengan beberapa orang.

“Tunggu dulu itukan Onew” kata appa kearahku.

“Ne” jawabku pendek sembari melanjutkan sisa tangis sesegukanku. Tapi mengapa Kyuhyun dan Jinri turut pula bersamanya mungkinkah dia sedang berusaha membujuk orang itu. Appa dan aku yang penasaran menghampiri mereka. Teman appa yang ternyata bernama Tuan Kim mengatakan bahwa acara perjodohan dengan anaknya di batalkan karena uang yang selama ini appa pinjam telah di lunasi. Tuan Kim beserta Istri dan anaknyapun pamit kepada kami. Mendengar pernyataan itu rasanya beban yang ada di pundakku sudah di lepas. Appa yang tak terima terus saja membujuk tuan Kim tapi tak di hiraukan hingga keluar dari restaurant.Tanpa basa-basi Kyuhyun menarik tubuh kedalam pelukannya.

“Kamu tahu betapa stresnya diriku mendengar berita itu” kata Kyuhyun yang tak hent-henti mengelus kepalaku dan masih dalam dekapannya.

“Hm..Hm…Sepertinya aku dan Jinri akan menjadi obat nyamuk” celoteh Onew, menyadari itu Kyuhyun melepaskan pelukannya.

“Tenang oppa, kanada aku di dini” gerutu Jinri terhadap Onew membuatku tersenyum simpul. Namun hanya suara dengusan Onew sebagai jawaban untuk Jinri.

“Kyuhyun apakah kamu mengingat perkataanku bahwa, apakah kamu bisa menerima keadaanku apa adanya, inilah yang aku maksud aku sudah mewanti-wanti ini akan terjadi pada diriku” kataku sedih.

“Ketika aku memutuskan memilih dirimu pasti akanada konsekuwensi yang harus di terima dan mungkin ini berlaku untuk semua pasangan baik ataupun buruk” sahut Kyuhyun. Sesaat aku tersadar akan sesuatu.

“Dari mana kalian mendapatkan uang sebanyak itu?” tanyaku terhadap mereka bertiga.

“Mestinya kita harus berterima kasih terhadap bocah ini” seru Onew lalu mengetok kepala Jinri.

“Gamshamnida Jinri-ya, hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku tak tahu bagaimana cara untuk membalas kebaikanmu”jelasku.

“yuri-ya kamu tahu uang itu adalah sisa uang beasiswa dan gaji parawaktu jinri sewaktu di Inggris yang dia kumpulkan selama 5 tahun” lanjut Onew.

“Bukannya kamu ingin melanjutkan kuliahmu di Oxford?” tanyaku tak enak.

“Impian itu tetap akan aku raih dan uang bisa aku dapatkan jika aku bisa memulainya kembali. Tapi sahabat sangat sulit aku dapatkan , selama ini aku hanya memikirkan keadaanku saja dan selalu fokus terhadap tujuanku kadang kala tak memperdulikan orang-orang sekitar. Walaupun aku harus bisa hidup mandiri tapi kadang kala aku harus membutuhkan orang lain sebagai salah satu mediaku untuk bersosialisai dan dapat berhubungan dengan yang lainnya. Sepertinya akan aku ubah sedikit prinsip hidupku…hahaha” ungkap Jinri panjang lebar lalu tertawa terbahak-bahak. Jinri anak macam apa dia, kadang kala tak mau mengungkapkan isi hatinya yang sejujurnya bahwa dia ikhlas membantuku dari arti perkataanya tadi.

“Heii.. bocah tumben kata-katamu bisa masuk ke otakku” seru Kyuhyun sesekali mencolek lengan Jinri untuk menggodanya. Mendadak suasana langsung cair dan kamipun berempat melanjutkan makan malam bersama di restaurant ini sekaligus untuk memperat hubungan diantara kami.

Apartement11.52 a.m

Hari minggu ini aku dan Onew di undang keluarga Choi untuk datang makan siang bersama. Aku yang telah tiba di depan apartementnya kemudian membunyikan bel, Kyuhyun yang kebetulan membuka pintu heran dengan kedatangan kami.

“Kalian berdua, memangnya kita ada janjian hari ini?” tanya Kyuhyun sembari memicingkanmatanya.

“Bukannya keluarga kalian yang mengundang kami?” sahut Onew yang menggaruk kepalanya sebagai tanda kebingungan.

“Jinri yang bilang, ia meminta kami untuk hadir di sini katanya ada acara kecil-kecilan” jelasku melanjutkan perkataan Onew.

“Nach, orang yang kalian maksud juga lagi keluar tadi aku melihatnya berpakaian rapi entahlah dia akan kemana, atau kalian masuk saja dulu untuk menunggunya” kata Kyuhyun menjawab segala rasa penasaran kami.

Aku yang melihat Nyonya Choi memasak di dapur turut membantunya.

“Apakah kamu sedang berkencan dengan Kyuhyun?” selidik nyonya choi mengangkat sebelah alisnya. Pertanyaan ini membuatku sejenak salah tingkah. Kyuhyun yang tengah berada di meja makan bersama Onew tiba-tiba tersedak.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV

“Apakah kamu sedang berkencan dengan Kyuhyun?” selidik eomma. Sesaat aku menolah kearah mereka berdua sejenak pertanyaan ini membuat Yuri salah tingkah. Sama halnya denganku yang tengah berada di meja makan sambil menikmati santapan makan siang tiba-tiba tersedak. Aku tak percaya bahwa eomma akan mengatakan langsung ke orangnya. Akhir-akhir ini aku sangat dekat dengan Eomma seperti layaknya anak dan ibu pada umumnya yang saling terbuka dan bertukar pikiran mengenai kehidupan kami termaksud soal itu. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama kala mendengar suara Jinri sambil membuka pintu depan apartement.

“Aku pulang” teriak Jinri berkoar-koar. Saat aku menoleh ke sumber suara ternyata Jinri tak datang sendirian tapi bersama appa. Hal ini justru membuatku terdiam tak berkutik.

“Sepertinya kalian tak ada yang merindukanku” sahut appa membuyarkan lamunanku seraya melentangkan kedua tangannya terbuka untuk memanggil kami menyambutnya. Aku yang tak dapat lagi membendung kerinduanku berlari menuju appa, eomma sendiri hanya bisa menangis di tempat.

“Mengapa appa pergi tak memberikanku kabar” tanyaku yang tak melepas pelukan appa.

“Kan appa sudah bilang kalau akan mengadakan perjalanan bisnis ke New York selama 3 bulan” jawab appa, akupun melepaskan pelukanku.

“Tapi mengapa kamu tak bisa di hubungi?” sahut eomma yang sedari tadi menangis  terharu.

“Kalau soal itu jangan tanyakan kepadaku?” jelas appa yang mengangkat kedua bahunya lalu melirik Jinri. Seketika pandangan tertuju terhadap Jinri, sedangkan orang yang di maksud hanya diam cengingisan dengan senyuman tak berdosanya.

“Oh iya,  kalian Appa aku hampir lupa ini teman baruku di seoul namanya Yuri dan ini Onew” kata Jinri yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Yuri dan Onew keduanya membungkukkan badan sambil menyapa Appa.

“Heiii bocah, kamu belum menjawab pertanyaanku” seruku.

“Oppa dengarkan penjelasanku dulu, jangan langsung naik pitam begitu. Begini 4 bulan yang lalu appa menelfonku dan curhat mengenai kesibukan masing-masing walaupun appa sering keluar kota bahkan keluar negeri beliau selalu menanyakan kabar oppa dan eomma. Tapi appa tak dapatkan jawaban dari kalian, malah di acuhkan ketika kembali ke rumah. Kebetulan sekolah sedang mengadakan  pertukaran pelajar aku yang mengajukan proposal ke sekolah memilih sekolah oppa dan menyusun rencana bersama Appa. Begitulah aku menjalani hidupku selama 3 bulan ini bersama kalian” terang Jinri. Iya memang semenjak kedatangan Jinri aku semakin dekat dan mencintai eomma. Aku juga telah menemukan sahabat baru yaitu Onew dan bisa menungkapkan perasaanku yang bertahun-tahun ku pendam terhadap Yuri serta masih banyak pengalaman yang aku dapatkan dari kehidupanku yang baru ini.  Aku lebih tahu bagaimana cara menghargai dan menyangi orang-orang yang dekat denganku baik itu keluarga maupun sahabat, rasanya aku ingin melindungi mereka semua sebagai tanda terima kasihku kepada mereka. Serta lebih banyak bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang dan berusaha untuk menjaganya, juga menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam menghadapai masalah tentunya bersama mereka. Kalau seperti ini aku optimis bisa melalui rintangan walau seberat apapun asalkan di lakukan bersama semua akan terasa ringan.

End Kyuhyun’s POV

Yuri’s POV

Sampai sekarang aku tak mengerti akting apa yang Jinri mainkan, dia sungguh sulit di tebak.

“Tapi kejadian itu, apakah juga karena rekayasamu?” tanyaku ke inti cerita.

“Itu murni, aku ikhlas dan tulus membantumu tanpa mengharapkan imbalan. Aku melakukan itu karena seperti yang ku katakan sebelumnya. Walaupun waktu itu aku berkata dengan nada bercanda tapi itulah jawaban yang sebenarnya. Baiklah tugasku telah selesai, aku akan balik ke inggris” jelas Jinri.

“Aku kira lagi 3 bulan kamu akan berada di sini?” sanggah Onew. Kami yang berada di situpun kaget mendengar pernyataan Jinri yang akan kembali  ke Inggris.

“Oh.. iya aku lupa mengatakan kepada kalian kalau 2 bulan lagi ada panggilan ujian untuk beasiswa di Oxford maka dari itu aku harus kembali sesegera mungkin, agar aku dapat mempersiapkannya dengan baik. Sepertinya aku akan masuk lebih cepat, maaf aku mendahului kalian” ucapnya santai seperti biasa.Sesaat aku terdiam, aku tak rela Jinri kembali ke Inggris dia sudah ku anggap sebagai sahabat bahkan adikku sendiri.

Incheon’s Airport 02.00 p.m

Sungguh aku tak sanggup menatap Jinri berusaha mencoba memalangkan wajahku ke arah lain.Aku takut air mata ini menetes.Perpisahan ini sangat berat bagiku terlebih lagi Jinri tak tahu kapan di datang lagi. Dia juga tak mau di kunjungi, betul-betul hanya fokus dengan impiannya selama ini.

“Jinri-ya, jaga baik-baik dirimu” kata Nyonya choi menasehati anaknya.

“Appa akan lebih sering menghubungimu dan kabari juga kalau kamu suda tiba di sana”ungkap Tuan Choi.

“Maafkan, kalau oppa punya salah terhadapmu” sahut Kyuhyun sedih yang belum bisa melepaskan adiknya sendiri.

“Tak usah sekhawatir begini, 5 tahun yang lalu saja aku berangkat cuman diantarin sama appa tak ada juga adegan drama seperti ini. Aku janji semua akan baik-baik saja”celoteh Jinri.

Terdengar suara pengumuman keberangkatan , perlahan kami memandangi punggung Jinri yang semakin menjauh.

3 Bulan kemudian

Seoul Performing  Art School 07.30 a.m

Hiruk pikuk mewarnai hari pertama sekolah  setelah libur panjang dan sekarang aku duduk di kelas tiga. Semua siswa-siswi berlalu lalang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Di kelasku sendiri suasana tak nampak jauh berbeda dengan sebelumnya terutama teman-teman yang masih sama seperti dulu.

“Yuri-ya, bolehkan aku sebangku denganmu?” seru Kyuhyun mendekatiku. Aku sendiri hanya mendengus kesal mengarahnya.

Plok….Timpukan buku pelajaran tepat mendarat di kepalanya walau hanya sekali tapi cukup menyakitakan membuat Kyuhyun menjerit kesakitan.

“Kamu fikir ini tempat kencan. Hah …” gerutu Na Eun mengagetkan kami berdua, seperti biasa mereka datang bertiga.

“Tau nich…Kyuhyun-ah kamu ingin  mengambil kesempatan dalam kesempitan yach?” canda Hyorin sembari tertawa mengejek.

“Apa kamu tak malu kalau adik-adik kelas meniru kelakuanmu, sebagai kakak kelas kita harus memberikan contoh yang baik” nasehat Na Eun sambil mengangkat tangan layaknya orang yang berpidato.

“Tumben otakmu encer” ledek Hyuna yang sedari tadi hanya menyaksikan Ne Eun dan Hyorin bercuap-cuap.

“Kyuhyun-ah, jadikan sebentar kamu datang rapat?” lanjut Hyuna.

“Memangnya ada rapat apa sich?” tanyaku heran.

“Ohh..Begini kitakan sudah kelas 3, aturan organisasi sekolah kita sudah harus serah terima jabatan dan memberikan tanggung jawab ke kepengurusan baru yang sasarannya adik-adik kelas. Nach kebetulan aku dan Kyuhyun sama-sama mempunyai jabatan ketua di organisasi kami masing-masing” terang Hyuna.

“Apa kamu cemburu?” selidik Kyuhyun memicingkan matanya.

“Siapa juga yang cemburu, kayak tak ada kerjaan lain saja” sanggahku kepada mereka yang terus saja tak henti-henti mempermainkanku dengan sindirannnya masing-masing.Melihat kehangatan kami di kelas melemparkan canda gurau, sesaat rasa rindu terhadap Jinri melandaku.

“Onew-ah, ada angin apa kamu kegirangan begitu” tanya Kyuhyun membuyarkan lamunanku.

“Molla” jawab Onew dengan wajah sumringahnya yang baru datang.

“Tapi akhir-akhir ini aku melihatmu seperti itu setiap hari, apakah kamu mendapatkan undian?” seruku heran.

“Jeongmal” lanjut Onew singkat.

“Jangan-jangan kamu sudah berkencan yach” selidik Hyuna, sedangkan Na Eun dan Hyorin mendengar itu mereka memaksa Onew untuk jujur saja terhadap kami. Tapi tetap saja Onew mengelak namun kejadian itu tak berlangsung lama kala bel berbunyi mengingatkan kami memulai pelajaran.

“Pagi anak-anak hari ini sebelum kita melanjutkan pelajaran minggu lalu, bapak ingin memperkenalkan siswi pindahan, silahkan masuk!!” kata Sanseongnim Yoon dan memerintahkan siswi tersebut masuk yang sedari tadi sembunyi di balik pintu.Aku yang menyaksikan anak baru tersebut hanya bisa terperangah dan melongo, sesaat diam tak percaya. Apalagi maksud dan tujuannya datang kesekolah ini.Setelah sadar akupun berbalik kebelakang untuk melihat reaksi Onew dan Kyuhyun dibelakangku.

“Kyuhyun-ah, mengapa kamu tak memberitahuku kalau dia akan kembali kesekolah ini lagi?” bisikku pelan.

“Aku saja yang kakak kandungnya sendiri tak tahu” ungkap Kyuhyun-ah.Onew sendiri hanya tersenyum tak karuan.

“Yorobun, anyeong haseyo Choi Jinri imnida, aku siswi pindahan dari Cambridge of Senior High School (fiksi). Mohon bimbingannya” ucapnya seraya membungkukkan badan seperti pertama kali bertemu. Seisi kelaspun riuh gemuruh ternyata orang yang di maksud mereka ternyata pernah bersekolah di sini.

End Yuri’s POV

Kyuhyun’s POV

“Aku saja yang kakak kandungnya sendiri tak tahu” ungkap ku. Di sampingku aku memandangi  Onew hanya tersenyum tak karuan.

“Yorobun, anyeong haseyo Choi Jinri imnida, aku siswi pindahan dari Cambridge of Senior High School (fiksi). Mohon bimbingannya” ucapnya seraya membungkukkan badan, sekali lagi dia menampakkan wajah polosnya seperti pertama kali bertemu. Aku sedikit was-was, apalagi motif yang dia rencanakan. Aku terus saja mengintropeksi diri mungkinkah aku mempunyai salah lagi? tanyaku dalam hati.

“Yailah kalau dia, tak usah di perkenalkan kita semua sudah tahu -ssi” celoteh Na Eun di tempatnya.

“Aku kira ada namja tampan” lanjut Hyorin dengan nada kecewa.

Kantin 11.57 a.m

Kami berempat berkumpul kembali seperti 3 bulan yang lalu.Di kantin ini kami melemparkan canda tawa dan di tempat ini pulalah aku dekat untuk pertama kalinya dengan Yuri dan Onew itupun dengan bantuan dan taktiknya Jinri.

“Jinri-ah mengapa tak memberitahukanku kalau kamu akan bersekolah di sini, kamu ini seperti hantu yang datangnya selalu tiba-tiba dan mendadak” seruku.

“Kenyataannya memang aku harus fokus dengan beasiswa itu dan berhubung aku tak lolos jadi harus dicoba lagi tahun depan. Karena aku rada bosan sendiridi Inggris itulah mengapa aku memutuskan untuk bersekolah kembali. Lagipula memberitahukanmu tentang kedatanganku itu tak begitu menarik kan aku ingin memberikan kejutan kepada kalian” terang Jinri panjang lebar.

“Tapi kenapa handphonemu sulit sekali di hubungi?” sergahku ke Jinri. Bahkan Appa dan Eomma tak bisa menelfonmu, hanya mengirimkan Email sekali-kali.

“Oh itu, sebenarnya aku sering berkomunikasi dengan Onew menanyakan tentang kalian, sungguh aku hanya ingin berkonsentrasi” lanjut Jinri.

“Mengapa cuman Onew?” tanya Yuri yang sedari tadi diam.

“Memangnya hanya kalian yang bisa jadian,kami ini sudah berkencan jauh hari sebelum kalian berdua” jawab Onew dengan semangat 45.

Mendengar pernyataan Onew aku semakin bingung begitu rapatnya menutupi hubungan mereka berdua.Aku saja baru sehari sudah aku publikasikan di madding sekolah saking bangganya karena aku berhasil menemukan dambaan hati.

“Hei…kalian tak usah bingung begitu. Kita ini berkencan yang sehat kok” jelas Jinri.

“hah.. ternyata di moment sweet seventeen kita ini begitu banyak kejadian yang tak terduga yach. Hmm .. Bagaimana kalau kita sebentar pergi double date kebetulan sebentar malam ada festival di namsan tower” Usul Yuri kepada kami semua dan tanpa basa-basi diiyakan langsung.

Namsan Tower 07.00 p.m

Malamini di musim  gugur dedaunan berangsur-angsur meninggalkan tangkainya menyambut datangnya musim baru. Begitulah kami yang ingin memulai kehidupan baru dan berusaha menikmati masa-masa Sweet Seventeen kami menuju pribadi yang lebih terarah. Moment ini tak akan kami lupakan dimana suka duka kita lewati bersama. Walaupun kadang kami bertengkar dan salah paham tapi itu semua tak akan berlangsung lama karena kami saling membutuhkan dan menyadari arti hadir mereka masing-masing. Keluarga dan sahabat adalah sesuatu yang akan ku genggam selamanya di tanganku.

“Yuri-ya aku sangat beruntung pernah mengenalmu, gomawo telah memberiku kesempatan” ucapku lalu mengecup keningnya dengan lembut.

“Ne” jawab Yuri singkat.

“Hmm…oppa aku juga mencintaimu” ledek Jinri menghadap Onew, mengagetkan kami berdua dengan suara yang sangat keras.

“Heiii.. Jinri-ya kamu belum cukup umur” teriakku tak terima.

“Jinja?” Sahut Onew yang juga melepaskan ciuman di pipi Jinri. Aku yang melihat itu berlari ke arahnya, namun dengan sigap Onew dan Jinri berusaha menghindar dariku. Kamipun saling kejar-kejaran di sekitar taman Namsan Tower.

The End

9 comments on “Sweet Seventeen

    • ugh padahal commentnya panjang knp jd pendek? =_= author, saya sempet heran pas baca marganya kyuhyun disini, saya fikir itu typo tapi taunya bukan. perlu di perhatikan EYD sama penulisannya thor, karena agak banyak yang gak pakai spasi *bow*

  1. Benar kata sulli klu kta mau jd terkenal itu tak harus dgn fisik dan harta kekayaan bnyk cara alternatif lainnya seperti yg sulli lakukan salut deh liat sulli di sini gara2 sulli kyuhyun banyak berubah dia bsa dekat dgn ommanya,yuri dan onew bahkan dia bsa jd pacar yuri gara2 sulli dan masih bnyk lg apalagi pas kata2 sulli aq suka bngt “Impian itu tetap akan aku raih dan uang bisa aku dapatkan jika aku bisa memulainya kembali. Tapi sahabat sangat sulit aku dapatkan pemikiran sulli di sini sangat dewasa berbeda jauh dgn umurnya yg masih muda pokoknya daebak deh ff nya kta bsa bnyk belajar di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s